Saturday, May 28, 2011

Ketika Allah Memilihmu Untukku...



Padamu yang Allah pilihkan dalam hidupku..
Ingin ku beri tahu padamu..
Aku hidup dan besar dari keluarga bahagia..
Orang tua yg begitu sempurna..
Dengan cinta yg begitu membuncah..
Aku dibesarkan dgn limpahan kasih yang tak terhingga..
Maka, padamu ku katakan..
Saat Allah memilihmu dalam hidupku,
Maka saat itu Dia berharap, kau pun sanggup melimpahkan cinta padaku..
Memperlakukanku dgn sayang yang begitu indah..


Padamu yang Allah pilihkan untukku..
Ketahuilah, aku hanya wanita biasa dengan begitu banyak kekurangan dalam diriku,
Aku bukanlah wanita sempurna, seperti yang mungkin kau harapkan..
Maka, ketika Dia memilihmu untukku,
Maka saat itu, Dia ingin menyempurnakan kekuranganku dgn keberadaanmu.
Dan aku tahu, Kaupun bukanlah laki-laki yang sempurna..
Dan ku berharap ketidaksempurnaanku mampu menyempurnakan dirimu..
Karena kelak kita akan satu..
Aibmu adalah aibku, dan indahmu adalah indahku,
Kau dan aku akan menjadi 'kita'..


Padamu yg Allah pilihkan untukku..
Ketahuilah, sejak kecil Allah telah menempa diriku dgn ilmu dan tarbiyah,
Membentukku menjadi wanita yg mencintai Rabbnya..
Maka ketika Dia memilihmu untukku,
Maka saat itu, Allah mengetahui bahwa kaupun telah menempa dirimu dgn ilmuNya.. Maka gandeng tanganku dalam mengibarkan panji-panji dakwah dalam hidup kita..
Itulah visi pernikahan kita..
Ibadah pada-Nya ta'ala..


Padamu yg Allah tetapkan sebagai nahkodaku..
Ingatlah.. Aku adalah mahlukNya dari tulang rusuk yang paling bengkok..
Ada kalanya aku akan begitu membuatmu marah..
Maka, ketahuilah.. Saat itu Dia menghendaki kau menasihatiku dengan hikmah,
Sungguh hatiku tetaplah wanita yg lemah pada kelembutan..
Namun jangan kau coba meluruskanku, karena aku akan patah..
Tapi jangan pula membiarkanku begitu saja, karena akan selamanya aku salah..
Namun tatap mataku, tersenyumlah..
Tenangkan aku dgn genggaman tanganmu..
Dan nasihati aku dgn bijak dan hikmah..
Niscaya, kau akan menemukanku tersungkur menangis di pangkuanmu..
Maka ketika itu, kau kembali memiliki hatiku..


Padamu yang Allah tetapkan sebagai atap hunianku..
Ketahuilah, ketika ijab atas namaku telah kau lontarkan..
Maka dimataku kau adalah yang terindah,
Kata2mu adalah titah untukku,
Selama tak bermaksiat pada Allah, akan ku penuhi semua perintahmu..
Maka kalau kau berkenan ku meminta..
Jadilah hunian yg indah, yang kokoh…
Yang mampu membuatku dan anak-anak kita nyaman dan aman di dalamnya..


Padamu yang Allah pilih menjadi penopang hidupku…
Dalam istana kecil kita akan hadir buah hati-buah hati kita..
Maka didiklah mereka menjadi generasi yg dirindukan syurga..
Yang di pundaknya akan diisi dgn amanah-amanah dakwah,
Yang ruh dan jiwanya selalu merindukan jihad..
Yang darahnya mengalir darah syuhada..
Dan ku yakin dari tanganmu yg penuh berkah, kau mampu membentuk mereka..
Dengan hatimu yg penuh cinta, kau mampu merengkuh hati mereka..
Dan aku akan selalu jatuh cinta padamu..


Padamu yang Allah pilih sebagai imamku…
Ku memohon padamu.. Ridholah padaku,
Sungguh Ridhomu adalah Ridho Ilahi Rabbi..
Mudahkanlah jalanku ke Surga-Nya..
Karena bagiku kau adalah kunci Surgaku..



-----@***@-----


( Oleh Aztriana 180610/ 01'50 Makassar.. ^_^v )


Dari Ummu Salamah, ia berkata, "Rasulullah S.A.W bersabda : "Seorang perempuan jika meninggal dan suaminya meridhoinya, maka ia akan masuk surga." (HR. Ahmad dan Thabrani)

Monday, May 23, 2011

Munajat Cintann...huhu

Telah ku jadikan dia sebahagian kecintaanku, tidak lain adalah kerana-Mu..Tuhanku, kekalkanlah perasaan ini hingga penghabisan nyawaku..Moga kami bisa bertemu lagi di syurgaMu nanti..Amin ya Rabb..ི♥ྀ

Sunday, May 22, 2011

Pada-MU Ku Beristikarah...

Istikharah Perlu Difahami

Maksud Istikharah ialah kita meminta bantuan Allah dalam membuat pilihan dalam pelbagai perkara dan urusan. Menurut hadith yang dikeluarkan oleh al-Bukhari di dalam Sahihnya dengan sanadnya daripada Jabir radhiyallaahu ‘anhuma, beliau berkata:

Daripada Nabi sallallaahu ‘alayhi wa sallam Baginda bersabda:

Apabila sesiapa daripada kalangan kamu diberatkan oleh sesuatu maka hendaklah dia Rukuk dengan dua Rukuk (mengerjakan Solat dua rakaat) yang selain daripada Solat yang Fardhu (yakni mengerjakan Solat dua Rakaat dengan niat Istikharah).

Kemudian hendaklah dia berdoa: "Ya Allah, aku beristikharahkan Engkau dengan ilmu-Mu dan aku juga memohon ketetapan dengan ketetapan yang bersandarkan kurniaan-Mu yang Maha Agung. Engkaulah yang Maha Menetapkan sedangkan aku tidak mampu untuk menetapkan. Engkau Maha Mengetahui dan aku pula tidak mengetahui. Engkaulah yang Maha Mengetahui akan perkara-perkara yang tersembunyi. Ya Allah, jika pada ilmu-Mu sesungguhnya urusan ini adalah baik untukku pada agama, kehidupan dan kesudahan urusanku (kini dan datang), maka tetapkanlah ia untukku dan mudahkanlah ia bagiku. Kemudian berkatilah bagiku di dalam pilihan ini. Dan andaikata pada ilmu-Mu sesungguhnya hal ini adalah buruk bagiku pada agama, kehidupan dan kesudahan urusanku (kini dan akan datang), maka hindarkanlah ia daripadaku dan hindarkanlah aku daripadanya. Tetapkanlah bagiku kebaikan dan jadikanlah aku redha dengannya."

Ketenangan Membuat Keputusan

Berdasarkan hadis di atas, kita memohon Allah memberikan kita yang terbaik semasa kita membuat pilihan terhadap sesuatu perkara. Kerana Allah mengetahui apa yang tersirat di dalam setiap sesuatu kejadian. Yang berlaku pasti ada hikmahnya. Tatkala kita masih ragu-ragu dengan pilihan yang ingin dibuat, laksanakanlah lagi solat tersebut. Tidak ada masalah untuk melakukannya berulang kali, sehingga kita beroleh ketenangan ketika membuat keputusan. Menurut al-Imam al-Nawawi, seseorang yang melakukan istikharah, maka dadanya akan terbuka luas untuk sesuatu urusan, malah dia akan terlihat kebaikan pada perkara yang akan dilakukan atau sebaliknya.

Secara amnya, kita timbang tara setiap keputusan yang dibuat, dan untuk memudahkan kita menyakini keputusan yang ingin dilaksanakan, seelok-eloknya mintalah pandangan kepada mereka yang kita percaya dan mampu memberi pendapat dengan baik terhadap perkara tersebut. InsyaAllah, keputusan mana yang kita rasa terbaik, itulah yang kita ambil. Bukannya menanti petanda dan berkata “Allah telah menunjukkan bahawa itu yang perlu dilakukan”. Dikhuatiri syaitan yang memberi petanda yang kita harapkan, kerana pilihan yang kita inginkan selalunya yang menyalahi tuntutan iman kita.

Istikharah Memohon Keredhannya

Setelah Solat Istikharah dilakukan, kita berharap keyakinan untuk melakukan keputusan tanpa perlu menanti petanda dariNya. Apa yang terjadi selepas itu pasti ada hikmah, samada berbentuk nikmat atau ujian. Bersangka baik sesuatu pilihan, selagi pilihan itu berada di jalanNya, dengan berlandaskan iman, bukan nafsu yang membuak-buak. Ubah mentaliti tentang mengharap mimpi datang, atau petanda berdasarkan keadaan, kerana kita yang membuat keputusan, dan tuhan yang menampakkan hasil di sebalik pilihan. Petunjuk itu memang ada, cuma jangan menantinya serta mengharapkannya, hindarinya, kerana syaitan berusaha mengambil kesempatan pada dalam kesempitan. Berhati-hati dengan pilihan kita, jika memudaratkan, penuh keburukan, jelas sekali, bukan dariNya, melainkan syaitan yang berusaha menyesatkan kita.

Apa sahaja pilihan yang dibuat, redha dengan ketentuannya. Kerana ketentuan itu adalah petunjuk dariNya juga. Firman Allah “..Mungkin kamu benci pada sesuatu, sedangkan ia lebih baik bagimu, mungkin juga kamu cintai sesuatu, sedangkan ia mudarat bagimu. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak.” (Al-Baqarah : 216)

❤✫•°*”☀”*°•✫❤✫•°*”☀”*°•✫❤✫•”☀”*°•✫❤✫•°*”☀”*°•✫❤✫•°*”☀”*°•✫❤



•♫♪♫• •♫♪♫•♫• •♫♪♫• •♫♪♫•♫•
Bersaksi cinta diatas cinta
Dalam alunan tasbih ku ini
Menerka hati yang tersembunyi
Berteman dimalam sunyi penuh do'a

Sebut nama Mu terukir merdu
Tertulis dalam sajadah cinta
Tetapkan pilihan sebagai teman
Kekal abadi hingga akhir zaman

Istikharah cinta memanggilku
Memohon petunjukmu
satu nama teman setia
Naluriku berkata

Dipenantian luahan rasa
Teguh satu pilihan
Pemenuh separuh nafasku
Dalam mahabbah rindu

diistikharah cinta..

•♫♪♫• •♫♪♫•♫• •♫♪♫• •♫♪♫•♫•

Album : Istikharah Cinta
Munsyid : Sigma

Wednesday, May 18, 2011

غُرَبَاء

غُرَبَاء وَلِغَيْرِ اللَّهِ لاَ نَحْنِي الجِبَاه
Ghurabaa’ wa li ghairillaahi laa nahnil jibaa
Ghurabaa’ do not bow the foreheads to anyone besides Allah
Ghurabaa`, dan kepada selain Allah mereka takkan menunduk

غُرَبَاء وَارْتَضَيْنَهَا شِعَارًا لِلْحَيَاة
Ghurabaa’ war tadhainaa haa shi’aaran lil hayaa
Ghurabaa’ have chosen this to be the motto of life
Ghurabaa`, dan mereka telah rela Ghurabaa` sebagai syi’ar dalam kehidupan

اِن تّسَل عَنَّا فَإِنّا لاَ نُبَالِي بِالطُّغَاة
Inta sal ‘anna fa inna laa nubaali bit-tughaat
If you ask about us, then we do not care about the tyrants
Jika engkau bertanya tentang kami, maka kami tak peduli terhadap para taghut

نّحْنُ جُنْدُ اللَّهِدَوْمًا دَرْبُنَا دَرْبُ الاُباة
Nahnu jundullaahi dawman darbunaa darbul-ubaa
We are the regular soldiers of Allah, our path is a reserved path
Kami adalah tentara Allah selamanya, jalan kami adalah jalan yang sudah tersedia

غُرَبَاء غُرَبَاء غُرَبَاء غُرَبَاء
Strangers! Strangers! Strangers!

لَنْ نُبَالِي بِالْقُيُود بَلْ سَنَمْضِي لِلْخُلُوْد
Lan nubaali bil quyuud, bal sanamdhii lil khulood
We never care about the chains, rather we’ll continue forever
Kami tak peduli terhadap rantai para taghut, sebaliknya kami akan terus berjuang

فَلْنُجَاهِد وَنُنَاضِل وَنُقَاتِل مِنْ جَدِيد
Fal nujaahid wa nunaadhil wa nuqaatil min jadeed
So let us make Jihad, and battle, and fight from the start
Maka marilah kita berjihad, dan berperang, dan berjuang dari sekarang

غُرَبَاء هَكَذَا الاَحْرَارُ فِي دُنْيَا العَبِيْد
Ghurabaa’ hakazhal ahraaru fii dunya-al ‘abeed
Ghurabaa’ this is how they are free in the enslaved world
Ghurabaa`, dengan itulah mereka merdeka dari dunia yang hina

غُرَبَاء غُرَبَاء غُرَبَاء غُرَبَاء
Strangers! Strangers! Strangers!

كَم تَذَاكَرْنَا زَمَانًا يَوْمَ كُنَّا سُعَدَاء
Kam tazhaakkarnaa zamaanan yawma kunna su’adaa`
How many times when we remembered a time when we were happy
Betapa sering saat kita mengenang hari-hari bahagia kita

بِكِتَابِ اللَّهِ نَتْلُوْهُ صَبَاحًا وَمَسَاء
Bi kitaabillaahi natloohu sabaahan wa masaa`
In the book of Allah, we recite in the morning and the evening
Dengan Kitabullah kita membaca, di pagi hari dan di sore hari

غُرَبَاء غُرَبَاء غُرَبَاء غُرَبَاء
Strangers! Strangers! Strangers!

غُرَبَاء وَلِغَيْرِ اللَّهِ لاَ نَحْنِي الجِبَاه
Ghurabaa’ wa li ghairillaahi laa nahnil jibaa
Ghurabaa’ do not bow the foreheads to anyone besides Allah
Ghurabaa`, dan kepada selain Allah mereka takkan menunduk

غُرَبَاء وَارْتَضَيْنَهَا شِعَارًا لِلْحَيَاة
Ghurabaa’ war tadhainaa haa shi’aaran lil hayaa
Ghurabaa’ have chosen this to be the motto of life
Ghurabaa`, dan mereka telah rela Ghurabaa` sebagai syi’ar dalam kehidupan


video


“Islam began as something strange, and it shall return to being something strange, so give glad tidings to the strangers.”
– Prophet Muhammad (peace be upon him)

Bersabda Rasulullah Sallallahu ‘alaihi was Sallam
“Islam itu bermula dari asing, dan akan kembali asing seperti mulanya
Maka beruntunglah orang-orang yang asing”

Aku Wanita

kerana aku wanita
pandangan Adam mampu tembus ke dasar hatiku
kerana aku wanita
ingin disayangi itu fitrah diriku
kerana aku wanita
mudah terpikat dengan keindahan akhlak seorang lelaki
kerana aku wanita
emosiku selalu mengatasi logik akalku
kerana aku wanita
air mata teman setiaku
kerana aku wanita
sensitivitiku terhadap sesuatu amat tinggi
DAN..
kerana aku wanita
aku damba pertolongan darimu Adam
peliharalah bicaramu
denganku jangan bermain kata
denganku takut rosak hatiku
kerana aku wanita
akhlakmu ukuran dimataku
peliharalah akhlakmu dan imanmu
jangan kau burukkan darjatmu pada mataku takut rosak thiqohmu
kerana aku wanita
maka peliharalah susunan kata-katamu
kerana aku mudah terasa
namun aku bukan lemah sekadar ingin kau tahu hati ini mudah tercalar
kerana aku wanita
peliharalah dirimu dari mencemuhku
saat titisan jernih mengalir dari mataku
kerana itu cara untukku meluahkan perasaanku supaya hatiku tenang kembali
maka fahamilah kecerewetanku ada sebabnya
WAHAI ADAM,
kalau kau sangka berpakaian selekeh itu 'cool',
hakikatnya kau begitu jelek pada pandangan kami.
andai kau rasa 'usha' itu tanda kejantanan,
darjat mu telah jatuh pada pandangan kami
jika kau fikir hidup membelakangkan agama itu kemodenan,
maka tiada lagi hormat untukmu dari kami

Saturday, May 14, 2011

Resipi Nasi Arab ^_^

Bahan-bahan (3 orang):

6 ketul ayam
4 ulas bwg merah
3 ulas bwg putih
1 inci halia
3 kuntum bunga cengkih
3 kuntum bunga lawang
1 btg kulit kayu manis
1 kiub ayam
1/2 sdk jintan manis
1/2 sdb lada hitam
1/2 sdk jintan putih
3 cwn beras basmathi
5 cawan air
2 sdb minyak sapi
1/2 biji bwg besar - di mayang
1/2 cawan sos tomato
2 sdb rempah kurma
Garam dan gula secukup rasa


Cara-cara:

Bwg merah,bwg putih, halia ditumbuk kasar.Masukan ayam, jintan manis, jintan putih, buah pelaga, bunga lawang, kulit kayu manis, lada hitam, kiub ayam, rempah kurma,air dan bhn yang ditumbuk tadi kedlm periuk. Masukan garam dan gula. Masak sehingga sup mendidih dan ayam masak.
Beras basmathi dibasuh dan direndam selama 20 minit. Selepas itu toskan beras.
Apabila sup ayam telah siap, asingkan sup dan ayam. Bahan2 rempah kasar dan bwg yg terdapat dlm sup tadi dikisar secara halus. Masukkan 1 cwn cawan sup bg menggantikan air semasa mengisar.
Panaskan minyak sapi di dalam kuali. Masukan bawang besar dan masak sehingga sedikit layu. Kemudian masukan bahan yg dikisar td.Tumis sebentar dan masukan 3 cawan sup dan tomato sos. Masukkan sedikit garam dan gula. Apabila hampir mendidih tutupkan api.
Masukan beras ke dlm periuk nasi dan diselang selikan dgn ayam. Kemudian masukkan (no.4) tadi. Tunggu sehingga nasi masak. Bleh tabur dgn sedikit bwg goreng, daun sup dan daun bwg.Nasi ini sedap dimakan dengan acar timun.



Cara lainnya:

1 kg beras bathmati [basuh dan toskan
1.5 liter air 500 gm ayam [potong kecil dan bersihkan]
1 tin kecil kacang peas
1 cawan kismis
3 biji cili merah
3 biji cili hijau
1 pokok daun sadri [daun sup] ] hiris
1 pokok daun ketumbar ]
3 s/b minyak
5 s/b minyak sapi
2 s/b serbuk jintan manis ]
1 s/b serbuk jintan putih ] bancuh ngan sikit air
bawang goreng
gula
garam

Bahan
tumis 5 ulas bawang merah ]
3 ulas bawang putih ] mayang
1 labu bawang besar ]
3 cm halia ]
2 inci kulit kayu manis
3 kuntum bunga lawang
5 kuntum bunga cengkih
3 biji buah pelaga
2 s/k jintan manis
1 s/k jintan putih

Cara

Panaskan minyak sapi dan minyak.
Tumiskan semua bahan tumis sehingga wangi.
Masukkan serbuk jintan yg telah dibancuh dengan sikit air.
Kacau rata. Masukkan cili merah, cili hijau, air, ayam, gula dan garam.
Biarkan mendideh.
Masukkan beras dan masak saperti nasi biasa.
Bila nasi telah masak taburkan daun yg dihiriskan, bawang goreng, kacang peas dan kismis.
Tutup sebentar.
Bila nasi agak kering gemburkan nasi dan boleh hidangkan dengan dalca sayur, sambal merah dan ayam tandoori.

**************************************

RESIPI AYAM TANDOORI:

Bahan:
1 ekor ayam [potong 4 dan bersihkan]
1 paket rempah tandoori MAGGI
3 s/b cili mesin
1 s/b serbuk kunyit
5 s/b tepung goreng ayam
3 ulas bawang merah ]
2 ulas bawang putih ] mesin halus
2 inci halia ]
garam

Cara:
Gaulkan semua bahan dan perapkan selama 1 atau 2 jam.
Bakar dalam oven yg dah dipanaskan suhu 220'C selama 1 jam.
Bila dan masak lumurkan butter supaya nampak berkilat.

Resipi Ayam Tandoori Goreng

bahan kisar 1:
1 biji bawang besar/3 biji bawang kecil
3 biji bawang putih
2 biji limau nipis – ambil jus
1 sk garam
1 sk serbuk kunyit
2 sk serbuk cili
150g natural yogurt
1/2 sk pewarna merah-kite tak guna
sedikit gula
bahan kisar 2:
3 biji cili kering
11/2 sk biji sawi-kite tak guna
1 sk halba
3 sk biji ketumbar – goreng tanpa minyak utk kasi naik bau
11/2 sk jintan putih – goreng tanpa minyak utk kasi naik bau
bahan lain untuk goreng
5 sb tepung goreng ayam-kite guna tepung tempura ready made
2 sb tepung beras pulut
Gaul semua bahan kisar 1, 2 dan bahan lain untuk goreng dan perap selama1 jam.
Goreng dalam minyak panas sehingga garing.
Toskan minyak dan siap untuk dihidang.
p.s Jika guna paste ready made tandoori, boleh skip penyediaan bahan kisar 1 dan 2 dan terus perap dengan paste ready made tersebut dan bahan lain untuk goreng.

Thursday, May 12, 2011

Seutuh Kasihmu...

“Seutuh kasihmu sayang, adalah dambaan hatiku… syukur atas rahmat Tuhan Yang Satu… Assalamualaikum…
Ikhlas mencintaimu...
Abang…

Air mataku mengalir lebat membasahi pipi… aku terkenang kembali nostalgia kisah suka dukaku bersama insan yang telah berjanji setia mengasihiku hingga ke akhir hayatnya...

Dalam debu-debu nipis yang membaluti sampul kecil tanda terakhir cintanya buatku, ada tersirat rasa kasih yang mendalam darinya untuk diriku ini dengan izin allah rabbul izzati….

Fikiranku kembali mengingati seraut wajahnya yang tenang setenang air di kali… tidak pernah hatiku di sakiti,jauh sekali menguji sedalam mana ikhlasnya cintaku dan setinggi mana kesabaranku menanti hadirnya sebagai raja dalam hidup ini…. sentiasa dibibirnya mengungkap rasa rindu padaku sekalipun setelah kami berumah tangga… hidupku bahagia dengan hadirnya Hadi Hafis,suamiku dunia akhirat,insya allahu rabbi…

Bermulanya perkenalan kami di sebuah institusi pengajian tinggi luar negara… walaupun kami tidak sefakulti, namun jodoh menemukan hati ini…Hadi adalah kasih pertama yang hadir dalam hidupku…. Bermula dengan sebuah sajak “Sesuci wajahmu Hawa”nukilannya, hatiku mula tertaut pada Hadi… sajak dalam risalah pelajar Muslim “an-Nas” itu kugunting dan kusematkan di dalam diari hijauku… (kebetulan warna kegemaran Hadi). Namun kusimpan rasa kasih itu dalam-dalam kerana kuyakin perasaan ini akan menjadi jahid yang tinggi nilainya di sisi seorang muslimah sepertiku… itu janji Tuhan buat insan bergelar perempuan dan aku tidak mahu ketinggalan merasai ganjaran itu walau aku akur, bukan mudah untuk menolak keinginan berterus-terang…. Sesekali terdetik perasaan untuk aku memulakan perkenalan, namun imanku menepis rasa di hati dengan istighfarku kepada Allah…

Terkadang, apabila berselisih dengannya, jantungku berdegup kencang… Ingin saja ku melemparkan senyuman yang paling manis buat insan yang telah menambat hati dan mewarnai hidup ini… namun maluku mengatasi segalanya… Alhamdulillah… sesekali aku diusik rakan-rakan, tapi aku tidak mengalah. Ego untuk membela akhlakku menyelamatkan diri ini dari terus menjadi usikan rakan-rakan…. Aku hanya membisu… Tidak mahu aku layani telatah rakan-rakanku, kerana aku tidak mahu nafsu amarah ini kalah dengan jihad yang sedang kubina atas dasar kasihku pada Allah Yang Maha Satu.

Dikala mindaku bercelaru, aku pasti merehatkan diriku di bangku taman universiti. Kehijauan taman itu membuatkan benakku berfikir tentang keesaan Allah sekali gus meleraikan kesedihan jiwa. Bertemankan sebuah buku bertajuk “Semanis Kesabaran” nukilan Syeikh Ahmad hadiah dari ayah sebelum aku berangkat ke sini, aku duduk bermuhasabah memikirkan betapa lemahnya jiwaku. Tidak setanding mujahadah yang berjuang membela Islam di serata dunia, berjuang dengan syahadah yang jitu dan matlamat yang satu… Bertunjangkan keimanan dan ketauhidan terhadap Allah...


Pernah satu ketika, mindaku buntu memikirkan ujian Tuhan yang tidak pernah putus mendambakan kesabaranku menunaikan kifayah ini.. Mengenang nasib ibu dan ayah di kampung yang semakin tua dimamah usia,dengan pendapatan yang tak seberapa menyara kehidupan kami 3 beradik… dan kerana ini jualah sebenarnya kubenamkan rasa cinta yang berputik buat Hadi. Aku mahu menjadi seorang anak yang dapat membela masa depan keluarga dan membalas jasa orang tua yang telah mencurahkan sepenuh kasih sayang mereka buatku hingga ke hari ini…..

Tiba-tiba kedengaran ucapan salam dari seorang lelaki… lamunanku tersentak.. Namun aku tidak mendongak…Rasa malu sudah datang menerpa… Tapi mengapa?? Ya, suaranya seperti pernah kudengar sebelum ini. Suara yang selalu menggamit mindaku untuk berpindah ke alam khayalan… Suara yang selalu datang dalam mimpiku… Suara yang sering mengimami jemaah solah di surau universiti… Ikhlas dan penuh rasa rendah diri… Kusambut salamnya dengan penuh debaran… Seketika itu aku terasa mahu lari dari tempat itu…. Balik ke bilik dan menelekupkan mukaku ke bantal… Aku tahu mukaku tidak merah, kerana kulitku bukannya putih.. Tapi, hitam manis… Hmmmm.. satu advantage buatku… Aku hanya menguntum senyum dibibir … Muncul satu perasaan yang sukar aku gambarkan… Senyumku berbalas. Bahagia…. Cepat-cepat aku membetulkan posisiku, supaya aku tidak teus hanyut dalam perasaan itu… Aku tunduk dan lelaki itu melabuhkan punggungnya di bangku kayu jati bersebelahan tempat rehlahku… Hadi… Namun dia tidak lama di situ… setelah menghulurkan sebuah bungkusan hijau kepadaku, Hadi berlalu pergi… Sekali lagi ucapan salamnya kedengaran…. Beserta bungkusan itu ada sekeping kertas putih bercoret tinta biru… Mujur sebentar saja pertemuanku dengan hadi petang itu… Aku tak mau di salah erti… Dan aku tahu hadi juga begitu…

Aku melangkah pulang kebilik…. Kugenggam pemberian Hadi sekemas mungkin… Dengan penuh tanda tanya….

Setelah selesai menunaikan fardhuku kepada Allah dan memohon doa padaNya, aku berbaring di katil… Segera kubuka warkah Hadi yang belum sempat kubaca…. Hatiku terharu dengan warkahnya yang pertama buatku itu…..

Assalamualaikum buat kenalanku Firdaus…

Maaf sekiranya warkah ini mengganggu saudari ketika ini…. Persoalan yang terbuku di minda membuatkan Hadi ingin sekali mengetahui apakah permasalahan di minda saudari yang sering Hadi lihat duduk berseorangan dan berduka dibangku taman universiti… Bukan sekali hadi lihat saudari di situ, tapi hampir setiap petang…. Niat Hadi bukan untuk menyibuk tentang hal saudari, cuma mahu mengetahui mungkin ada sesuatu yang boleh Hadi bantu untuk meringankan beban di hati dan mengembalikan keriangan yang pernah Hadi lihat di wajah Firdaus ketika dulu…..

Maaf sekali lagi andai warkah Hadi ini tiba pada waktu yang tidak sepatutnya…. Sekian dulu dari Hadi, maas salamah…”

Aku melipat kemas warkah itu dan kusimpan di dalam diari hijauku…. aku tahu bibirku sekali lagi menguntum senyuman yang paling manis… Kali ini, menampakkan baris gigiku yang putih bersih… Hasil pengamalan sunnah rasulullah untuk bersugi setiap kali sebelum solah….

Aku menghela nafas panjang…. Kuletakkan diariku disisi… Dan seketika itu aku di buai mimpi…..

Semenjak dari itu, aku semakin akrab dengan Hadi… Namun keakraban kami bukan seperti yang selalu digambarkan dalam kaca tv… Akrab yang aku maksudkan adalah dari segi peringatan yang selalu Hadi beri buatku, dalam bentuk sajak, cerpen dan puisi… Hadi memang pandai menulis… Hasil karangannya sungguh terkesan dihati ini… Setiap kali membaca coretan penanya, mindaku terasa ringan dari bebanan masalah… berpesan-pesan kepada kebenaran, dan berpesan-pesan pada kesabaran… Dengan firman Allah itulah, hatiku semakin yakin menundukkan rasa tekanan yang sering datang menggoyahkan sabarku terhadap cubaan yang diberiNya….

Pada setiap bulan puasa, Hadi tidak pernah lupa mengirimkan berkotak-kotak kurma buatku… Katanya berseloroh dalam warkah yang disertakan bersama sekotak kurma yang dikirimnya melalui Hafizah rakan sekuliahku,“ Kurma ini ‘pemanis muka’ buat saudari Firdaus di sana. Segar. Hadi petik dari tanah suci. Bila kita berumah tangga nanti, bolehlah kita menunaikan haji bersama-sama ya”… Dalam hatiku, aku mengaminkan selorohnya… Pernah jua Hadi mengirimkan nota-nota fotostat yang dikumpulnya dari rakan-rakan fakulti perubatan dan memberinya kepadaku…Dia berpesan supaya berusaha untuk menunaikan kifayah ini dengan sebaik-baiknya. Sudah pasti harapan itu tidak kuhampakan… Harapan dari seorang lelaki yang sungguh istimewa dalam hidupku, namun dia tidak pernah tahu. Hasilnya, Alhamdulillah, aku cemerlang dalam setiap peperiksaan tahunanku…….

Hadi selalu mengirimkanku doa-doa yang didapatinya dari kitab-kitab ulama terkemuka… katanya doa itu senjata umat Islam… usaha itu datang bersamanya dan tawakkal mengiringi setiap usaha yang tidak pernah mati…

6 tahun berlalu…. akhirnya aku berjaya meraih ijazah yang kuidam-idamkan selama ini… Air mata kesyukuranku tumpah ke bumi… Aku bergelar doktor kini…. Cintaku Hadi (walau dia tidak pernah tahu sehingga kini) bergelar professor di salah sebuah universiti di tanah air.. warkahnya yang hadir setiap bulan menemani hidupku dan membakar semangatku untuk terus berjaya ke akhirnya…. Harapanku untuk menjadi insan yang istimewa dalam hidup hadi, tidak pernah padam, seawal tahun pertama kami disini…. Ibu dan ayah tidak menyertaiku pada hari bahagia itu… Namun kutahu, doa merekalah yang menjadi tunggak kejayaan yang kuperoleh… Dalam hatiku, kupanjatkan kesyukuran yang teramat sangat kepada Allah… Aku tidak mungkin dapat merasai kegembiraan ini tanpa izinNYa…

Kepulanganku disambut ibu dan ayah… Kedut-kedut di dahi ibu kucium sepuas-puasnya… Urat hijau yang timbul ditangan ayah kukucup dengan penuh kerinduan… Tidak sabar rasanya untuk aku berjumpa dengan adik-adik yang telah kutinggalkan 6 tahun dahulu… Pastinya mereka sedang menunggu kepulanganku dengan gembira…

Setibanya di rumah Ahmad berlari mendapatkankku, adikku yang paling kecil sekali… Sudah pasti dia mengenaliku dari gambar yang kukirimkan kepada keluarga setiap tahun sejak tahun pertama lagi… adikku Jannah menunggu di halaman rumah dengan senyuman yang penuh ceria… Masih kuingat lagi, sewaktu aku meninggalkannya, Jannah menangis mahu mengikutku bersama-sama… Kini jannah sudah remaja… berkain batik, anak dara sunti lagaknya…. Dia menyambut tanganku lantas mengucupnya dengan titisan air mata… Dia memang tidak pernah berubah…. Mudah sekali mengalirkan air mata... Memang dia manja denganku…. Kehangatan inilah yang kutunggu selama 6 tahun ini, untuk bersama keluarga yang telah lama aku tinggalkan demi sebuah impian untuk menjadi doktor…

Malam itu ayah menyuarakan sesuatu yang mengejutkan aku… seseorang telah datang merisik diriku… Jannah menyiku sambil tersenyum simpul… ”Hadi Hafis,” kata ayah… mahu saja aku menjerit kesyukuran ketika itu… tapi ku tahan… ku tahan perasaanku… kutundukkan muka dan tiba-tiba saja refleksku mengambil alih pergerakkanku… aku bingkas bangun dan meninggalkan ayah, ibu dan adik-adik di meja makan selepas meminta diri… terasa bodoh pula tindakanku ketika itu…. aku berlari mendapatkan diari hijauku di bawah bantal. Kubuka surat hadi yang dikirimkan dalam bentuk sajak ’Pabila tiba masanya’…

Aduhai Hawa,
Pabila tba masanya, aku pasti berlari mendapatkanmu,
Mendapatkan kasihmu yang seindah pelangi alam,
Yang setenang air di muara kasih,
Yang sesuci hamparan cinta kau simpan dalam ketaqwaan…

Wahai Hawa,
Bila gerimis menyelimuti pawana,
Petir menjalar di langit hitam,
Dan bila sengsara datang bertandang,
Bermunajatlah dengan penuh rasa kehambaan,
Agar syahadahmu kukuh bertautan….

Bersabarlah Hawa,
Kerana kesabaran itu seindah mutiara
Tercipta didasar lautan,
Walau sebesar mana gelombang mendatang,
Sinarnya tetap gemilang,
Dan begitulah hakikatnya sabar,
Yang pasti menyelamatkan kewarasanmu dari hilang….

Sungguh wahai Hawa,
Dihati ini ada perasaan yang sukar kuungkapkan kepadamu,
Kerana wajahmu yang penuh rahsia,
Kerana wajahmu yg membuatkan ingatanku pulang,
Pada yang maha Esa,
Menjadikan lidahku kelu berkata-kata…..

Kugenggam erat warkah itu dan ku baca berulang kali…. Seolah-olah mimpi jadi kenyataan…. Hadi bakal suamiku…. Kedengaran pintu bilikku diketuk berulang kali…. Emak masuk dan melemparkan senyuman yang selalu aku rindu suatu ketika dahulu…. Kata emak, semuanya terpulang padaku…. ”Mahu atau tidak… emak tak kisah, asalkan anak emak gembira”…… Ku berbisik di telinga emak tanda memberikan kata setuju…. Kukucup jemari kurus emak lantas emak membalas dengan belaian yang penuh kasih….. Walau emak sudah semakin berusia…. segar kasihnya masih lagi seperti dulu….

Hadi Hafis dan Ikhwatul Firdaus selamat diijab kabulkan……….

Banyak yang aku pelajari dari perkongsian hidupku dengan Hadi…. rajukku di pujuk… lembut dan tenang…. Sedihku di redakan dengan kemanisan wajahnya dan belaiannya cintanya padaku… Dan begitu juga aku, menyayanginya dengan sepenuh jiwa… Dialah lelaki pertama dan terakhir yang akan menjadi raja hidupku ini… Aku cuba menjadi isteri yang solehah walau kelemahan ku tetap muncul di sana sini…. Namun suamiku tidak pernah menyuarakan ketidak puasan hatinya… Tidak pernah sekalipun lakunya menampakkan kekuranganku… tidak pernah sekali, keluhan terhembus dari bibirnya…. Kelemahanku dibaikinya dan diganti dengan kekuatan… Ya, kekuatan sebagai seorang wanita Islam yang perlu berjuang menegakkan agama dalam setiap geraklakunya….

Begitulah pesan Hadi yang kini kupanggil ’abang’….

Setiap kali selesai solat…. Abang akan memberikan tazkirah buat peringatan kami dunia akhirat… Tidak pernah sekali abang terlepas dari menjadi imam solat fardhu ketika kami sama-sama dirumah… Tahajjud pun kami lakukan berjemaah… Sungguh aku rasa bahagia manisnya berumah tangga yang cintanya berlandaskan syiar Islam…. Masih aku ingat lagi, sewaktu malam pertama aku dan abang, kami solat hajat dan sujud syukur bersama-sama….. Kata abang, biarlah landasan dan tapak masjid yang kami bina ini atas dasar ibadah, bukan nafsu semata-mata... hingga ke hari ini…. pesan abang bersemadi di hati….

Setelah 6 tahun berumah tangga, kami dianugerahkan 3 cahaya mata… Malam itu, abang hadi menyuarakan hasratnya padaku, tentang menunaikan rukun Islam yang kelima bersamaku dan anak-anak… Ya, seperti dalam selorohnya yang ku aminkan dulu…. Aku tersenyum sendirian … Pastinya aku setuju dengan cadangan itu… Abang Hadi menanggung perbelanjaan ibadah itu… Hasil simpanan sejak di universiti lagi katanya… Aku terharu… Kata Abang Hadi, umrah dan haji biarlah dilakukan bersama-sama sementara waktu mengizinkan… seperti yang selalu diingatkannya…. ’hidup sebelum mati’…….

Setelah tamat kursus haji kami berangkat ke Tanah Suci…. Ibadah yang kami lakukan berjalan lancar. Cuma abang Hadi kelihatan tidak begitu sihat seperti sebelumnya… Apabila ditanya… hanya kuntuman senyum yang diberikan kepadaku, seperti selalu…. Di Tanah Suci kupanjatkan kesyukuran kepada Allah yang telah memakbulkan pinta hajatku selama ini… Hanya Dia yang tahu sedalam mana cintaku kepada abang Hadi…. Hanya Allahlah tempat aku bermohon selama ini… Hanya Dialah yang berkuasa memberi dan menarik balik rezeki…………. Aku bersujud kepada Allah malam itu dengan penuh rasa rendah diri…. Kudoakan hidup dan mati kami sekeluarga serta keturunan kami dalam iman dan taqwa serta redhaNya… Biarlah hidup dan mati kami dalam limpah kurniaNya……………….

Malam itu abang Hadi batuk tidak berhenti-henti….. Badannya panas dan mukanya merah seperti menahan kesakitan….. Sebagai seorang doktor, bukan mudah bagiku memeriksa tubuh itu…. Tambahan pula, itu suamiku… Cintaku… Kasihku….. Doktor yang bertugas memberi tahu bahawa abang Hadi diserang demam panas…. abang Hadi mungkin tidak dapat mengikuti kami bertawaf keesokan hari…. Jadi abang Hadi terpaksa tinggal di apartment…. Aku sebagai isteri tidak mungkin sanggup meninggalkan abang Hadi seorang diri…. Sepanjang hari aku menemani suamiku……. Aku hanya mengalirkan air mata di sisinya…. Aku fahami kesakitannya… Namun hanya dengan izin Allah abang Hadi akan sembuh semula… Segala medikasi yang disediakan ku berikan kepada Hadi dengan penuh harapan agar dia sihat seperti sedia kala…. Pipiku diusapnya… lemah… tidak bermaya…. namun, kehangatan kasihnya masih terasa….. Dalam nafasnya yang lemah, abang Hadi berpesan kepadaku….

“Sayang….. terima kasih abang ucapkan buat dirimu… Terima kasih atas kasih sayang yang tak pernah padam darimu buat abang… terima kasih kerana memberikan abang anak-anak yang soleh dan solehah, insya allah”….. Abang Hadi menarik nafas panjang dan menyambung kata-katanya… kulihat air mata kasihnya berjuraian disisi… Ini kali kedua kulihat abang menangis… kali pertama adalah sewaktu melihat aku melahirkan anak sulungku… Miftahus Solihin bin Hadi Hafis…..

“Sayang, ingatlah tautan kasih yang terjalin antara kita dengan izin Allah…. Panjatkanlah syukurmu buatNya sayang… Jangan pernah lupa… Teruskan mendidik anak-anak kita mendalami Islam dan menjaga iman mereka dengan sepenuh jiwa…. Berjuanglah membela Islam dan jangan berhenti sebelum menang…. Buat dirimu sayang, abang sejak dulu tidak pernah lupa berdoa agar kau menjadi milik abang suatu hari nanti… Alhamdulillah, hajat abang termakbul…… Maafkan kesalahan abang andai kata abang pernah melukan hatimu”…… Dan aku lihat Abang terlena……. manik-manik putih dimatanya berjuraian lagi… kukucup pipi abang… Sendu semakin terpahat di hati ini…

Malam itu, abang memanggilku dan anak-anak supaya berada di sisinya…. Abang berpesan kepada anak-anak kami supaya menjagaku sebaik-baiknya… Dan bersikap mengikut sunnah Rasululullah…. Pesan abang, jadikanlah sabar itu sebagai asas perjuangan hidup kami dalam dunia yang semakin mencabar keimanan ini…… Anak-anakku terus menerus membaca Al-fatihah…. Itulah yang dipesan oleh Hadi kepada anak-anak kami… ”Al-Fatihah itu sedekahkanlah kepada emak dan ayah… Tak kiralah dimana pun kamu semua berada… Utuhkanlah ikatan kekeluargaan kita dan tanggungjawab yang terpikul dengan iman di dada… Selesaikanlah semua permasalahan antara kita dengan merujuk kepada kitabNya”…. Anakku yang sulung membelai rambut ayahnya. Ku lihat anak-anakku membeningkan tangisan di mata mereka….. Abang memandangku dengan mata yang sayu … ”Assalamualaikum”…. kata abang.... Walau matanya tak bersinar seperti dulu, namun keikhlasannya tetap kurasai… Tanganku digenggamnya seerat mungkin… Kubisikkan syahadah ditelinga abang…. ”asyhadu alla ilaa ha illallah”…. Abang mengulangnya… perlahan-lahan, tetapi jelas…. Hembusan terakhir nafas abang melepaskan perlahan tanganku dari genggamannya…… Abang pergi menyambut panggilan Ilahi…. Sebelum kuselimuti seraut wajah manis abang yang pernah menceriakan hidupku dulu, menepis segala kepahitan jiwaku, kukucup dahi abang sekali lagi dan kusedekahkan Fatihah buat dirinya…. Walau hati ini tersayat luka…. Namun aku gembira kerana pernah menjadi seorang isteri kepada lelaki yang soleh dan telah membimbingku kejalan bahagia ini… Terima kasih abang…..

Jenazah abang Hadi kami kuburkan di tanah suci…. itulah harapan yang pernah disuarakannya satu ketika dulu… sebelum kami sampai disini.. Sewaktu bermulanya perkenalan kami lagi… ”Insya Allah, saya teringin sangat mengakhiri riwayat hidup saya di Tanah Suci” itulah jawapannya bila kuajukan soalan tentang impian hidupnya…..


Warkah terakhir darinya kubuka dan kubaca sekali lagi… Warkah yang diminta supaya aku membacanya apabila kami selesai menunaikan ibadah haji dan pulang ke tanah air…..

Sayang,
Bila bumi memanggilku kembali,
Bila jasad ini tidak bernyawa lagi,
Ketahuilah hanya engkau pernah menjadi permaisuri hati,
Melengkapkan citaku selama ini….

Bila kita saling terleka,
Atau semakin ditelan usia,
Atau terpisah oleh ketentuanNya,
Tetapkan hatimu pada kasih abadi,
Kasih Allah Rabbul Izzati….

Sejak dulu wajahmu menjadi ratu hatiku,
Doaku menginginkanmu,
Kutahu doamu pun begitu,
Tapi kau simpan suara hatimu demi jihad itu,
Ini yang membuatkan hatiku semakin tertawan padamu…..

Syukran temanku, suriku, cahaya hidupku,
Abadikanlah kenangan dan kasih kita bersama keakhirnya,
Walau antara kita terpisah jasad dan nyawa……
Iman, amal dan taqwa tetap bersemi di hati selamanya….

Seutuh kasihmu sayang, adalah dambaan hatiku…. syukur atas rahmat Tuhan yang satu… ….Assalamualaikum….

Ikhlas mencintaimu...
Abang….

Kulipat kemas warkah abang dan kusimpan dalam diari hijaunya.. Ya, warna kegemaran kami berdua… Ada lakaran wajahku pada muka terakhir diari itu…. Aku tersenyum… Kukucup wajah abang dalam gambar yang kulekatkan dalam diariku…. Wajah manis itu seakan menyambut kucupanku…..

“Mak”…. Lamunanku tersentak…. Soleh menghampiriku… 6 tahun berlalu…. anak-anakku sudah membesar semuanya…. Membesar dengan kasih sayang dan pesan ayah mereka supaya selalu menegakkan Islam walau dalam apa jua perkara…. Bahagia inilah yang pernah kurasai dulu… ”Mak, adik tanya, jihad tu apa maksudnya mak…. ”kata soleh menggaru-garu kepala… Kubelai rambut anakku dengan penuh kasih sayang, ”Sekejap lagi mak datang”, balasku…. Anakku mengangguk-ngangguk dan menyimpulkan senyuman.. Seiras wajah ayahnya.. Akan ku jelaskan maksud jihad sejelasnya kepada anak-anakku kerana ANUGERAH JIHAD INI lah yang telah membawa sinar kebahagiaan dalam kehidupan kami sekeluarga hingga ke detik ini….………....... Amin….

Hidupkan hati dgn tazkirah kehambaaan... Sekali lagi tazkirah dengan kehambaan penting. Dengan sifat kehambaan, kita akan harapkan Allah untuk meneruskan momentum amal ketika 'down'. Dan apabila kita terlalu bersemangat, sifat kehambaan akan mengingatkan kita bahawa kita hidup dalam sistem yang ada fitrahnya. Fitrah sistem alam ini perlukan masa untuk berubah, dan perubahan biasanya akan perlahan-lahan. Bila kita ingat selalu hal ini, kita akan 'menasihatkan' diri agar jangan tergopoh.

Jika kejahatan dibalas dengan kejahatan - itu adalah dendam. Jika kebaikan dibalas dengan kebaikan - itulah tanda ketinggian budi. Jika kebaikan dibalas dengan kejahatan - itu adalah kezaliman. Tetapi jika kejahatan dibalas dengan kebaikan - itulah buktinya pekerti mulia lagi terpuji. Sungguh sedikit manusia yang memahami. Lebih sedikit manusia yang memahami dan mengamalkan. Lebih sedikit lagi manusia yang telah memahami, mengamalkan dan ikhlas. Terlebih sedikit lagi manusia yang telah memahami, mengamalkan dan ikhlas serta sampai ke tujuan." -Imam Hassan al-Banna........

Mawaddah...



"Maruah dirimu sebagai sekuntum mawar adalah lebih berharga dari segulung ijazah dan wang berjuta..Oleh itu jaga dan siramilah dirimu dengan cahaya keimanan dan ketaqwaan agar ianya tidak dilayu dan terlayu begitu sahaja.."